Kamis, 15 Agustus 2013

WADUK PLUIT - DILEMA PEMDA, WARGA SEKITAR WADUK, MASYARAKAT DAN BUMI

Waduk Pluit
Kawasan Waduk Pluit, Jakarta Utara, yang sudah berubah menjadi lebih baik dipandang sinis warga sekitar waduk yang menolak direlokasi. Menurut mereka, perubahan tersebut tidak membawa manfaat karena masih banjir. "Bodo amat, mau dikeruk-keruk juga enggak peduli. Enggak ada manfaatnya juga, soalnya masih banjir," kata Kamiyati, warga Jalan Pluit Timur Taman Buruh, Penjaringan, saat ditemui Kompas.com, Kamis (15/8/2013).
(itulah sekelumit lontaran bernada sinis, pesimis dan masa bodo beberapa warga di sekitar waduk pluit), Mungkin ini sebagai gambaran Komunitas Kecil di Ujung Jakarta, atau mungkin ini sebagai gambaran dari Komunitas yang lebih besar lagi, bisa di katakan sebagian besar warga Jakarta masih memiliki pandangan yang sinis, pesimis dan masa bodo terhadap lingkungan, atau mungkin bukan hanya Gambaran tentang Jakarta, mungkin ini gambaran sebagian besar rakyat Indonesia. Mungkin,...Bukan berarti benar,. jangan tersinggung loh.

ini sekilas photo waduk pluit 8 bulan yang lalu


Waduk Pluit - Tahap Perbaikan



Aku bukan protes, bukan menyalahkan apalagi menghakimi orang - orang yang masih memiliki pandangan seperti itu. Karena kapasitas ku bukan sebagai hakim. dan aku memang bukan hakim.
Berfikir mudahnya seperti ini. Waduk Pluit, itu dahulunya memang di rencanakan dan di buat oleh belande, sebagai daerah tangkapan (resapan air hujan) akibat banjir besar di jakarta tahun 1918, oleh Bung Karno Pun Waduk Pluit tetap di jaga keberadaannya untuk maksud dan tujuan yang sama dengan belande, alias salah satu daerah tangkapan air hujan. sampai dengan tahun 70 an, waduk itu masih berfungsi normal dan memberikan manfaatnya untuk warga sekitar dan Jakarta. Ikan masih banyak, airnya jernih, banyak tanaman dan pepohonan yang di tanam di sekitar waduk pluit. dan ketika hujan pun banjir tidak separah sekarang. ini. Barulah di pertengahan tahun 70an beberapa wilayah di sekitar waduk pluit berubah fungsinya menjadi pemukinan modern dan area pabrik. yang secara otomatis sebagai salah satu daya tarik yang cukup kuat untuk mendatangkan kaum pendatang yang ikut bermukim juga di sekitar area waduk pluit. mereka sebagian besar bekerja di pembangunan perumahan elit dan pabrik itu. dan ketika perumahan elit itu selesai mereka sudah cukup betah untuk tetap tinggal di sekitar waduk pluit. mereka pun sebagian ikut bekerja sebagai buruh-buruh pabrik di kawasan itu. sebetulnya jika di lihat masalahnya dari alur sejarah tidak ada masalah sama sekali dengan perubahan dan perpindahan penduduk yang ada di sekitar waduk pluit. itu hanyalah efek dari moderenisasi yang terjadi di sekitar lingkungan waduk pluit.
Hanya konsekuensi dari moderenisasi yang tidak terkendali alias tidak terkontrol ini menimbulkan banyak masalah.
Masalah Pertama, Secara otomatis luas dari waduk pluit akan berkurang banyak, karena di rubah menjadi pemukiman modern, pabrik dan pemukiman liar. data pastinya mungkin para ahli yang lebih tahu. karena luas waduk berkurang banyak, berarti daya tampung air juga akan semakin berkurang. karena daya tampung air semakin berkurang, berarti air akan lebih senang berada di permukaan, alias banjir semakin tinggi.
nah pemerintah di wajibkan untuk mengatasi banjir di wilayah waduk pluit yang akan berefek di wilayah lainnya. bagaimana mungkin banjir akan berkurang jika area yang seharusnya di pakai oleh air hujan untuk istirahat sejenak di pakai oleh manusia yang menempati pemukiman modern, pabrik dan pemukiman liar. Mungkin tidak?. Saran dan Solusinya. ya pemukiman modern, pabrik dan pemukiman liar harus rela di relokasi ketempat yang memang di peruntukan untuk mereka bukannya malah mereka bersama-sama menjajah air. ya wajar toh kalau airnya melawan, namanya juga di jajah, pasti ada waktunya melawan.
Masalah Kedua, Sampah, seperti yang aku perlihatkan di photo di atas, begitu banyak sampah, sampai sudah menggunung, namanya juga sampah ya seharusnya di buangnya di tempat pembuangan sampah bukan di waduk, kalau mereka dan kita membuang sampah bukan di tempat pembuangan sampah, kasihan dong tempat pembuangan sampah, seperti tidak diperdulikan, padahal kalau sampah itu di buangnya di tempat pembuangan sampah, justru sampah itu malah semakin bermanfaat, orang-orang kreatif dan pekerja keras yang berada di tempat pembuangan sampah akan lebih mudah memilih dan mengelompokan sampah-sampah itu untuk di buat sesuatu yang lebih bermanfaat lagi untuk kebutuhan kita-kita. nah kalau sampah di buangnya di waduk, itu sama saja meremehkan keberadaan (eksistensi sampah), nah kalau sampah merasa sudah di remehkan, mereka akan melawan juga seperti air, dan mereka bisa bekerja sama, dengan air untuk melawan kita manusia, pasti kita juga sudah tahu, jika sampah dan air bergabung membentuk koalisi dan menyerang manusia, sudah pasti kita akan kewalahan di buatnya, karena senjata mereka semuanya adalah kelemahan kita. Penyakit kulit adalah senjata mainan mereka, kalau amarah mereka sudah naik, pasti penyakit - penyakit yang biaya berobatnya mahal akan di gunakan oleh mereka untuk menyerang kita. lebih parahnya lagi masa kita perang terus dengan air dan sampah, tidak inginkah kita berdamai dengan mereka dengan memberikan haknya kembali air dan sampah. masa sih sudah puluhan tahun kita tidak capai selalu bermusuhan dengan mereka. berdamailah dengan air dan sampah, buatlah mereka senang, pasti kita pun akan di buat senang oleh mereka....

Masalah ketiga,..dan seterus, nanti di lanjutkan lagi,...mau pulang kerja dulu...
salam

Selasa, 13 Agustus 2013

Sample Bangunan Rumah Sewa 2 Lantai


Sample Layout Bangunan Kost-Kost-an 2 Lantai - Serpong - Tahun 2012


Kidung Rumekso Ing Wengi - Sunan Kalijaga

Rumekso ing Wengi

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
miwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal


Terjemahan dalam bahasa indonesia:

Ada kidung rumekso ing wengi.
Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit.
Terbebas dari segala petaka.
Jin dan setanpun tidak mau.
Segala jenis sihir tidak berani.
Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir.
Api menjadi air.
Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya.
Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih.
Semua senjata tidak mengena.
Bagaikan kapuk jatuh dibesi.
Segenap racun menjadi tawar.
Binatang buas menjadi jinak.
Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak.
Meski batu dan laut mengering.
Pada akhirnya semua slamat.
Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan.
Hatiku Adam dan otakku nabi Sis.
Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia.
Nabi Yakub pendengaranku.
Nabi Daud menjadi suaraku.
Nabi Ibrahim sebagai nyawaku.
Nabi sulaiman menjadi kesaktianku.
Nabi Yusuf menjadi rupaku.
Nabi Idris menjadi rupaku.
Ali sebagai kulitku.
Abubakar darahku dan Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia.
Siti fatimah sebagai kekuatan badanku.
Nanti nabi Ayub ada didalam ususku.
Nabi Nuh didalam jantungku.
Nabi Yunus didalam otakku.
Mataku ialah Nabi Muhamad.
Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa.
Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

Mari Kita Ber"Damai"